Taruhan Bola AS Roma

AS Roma

AS Roma

Taruhan Bola – Musim berikutnya juga sama, meskipun lebih sedikit dana yang dikeluarkan. Dodo (Corinthians), Panagiotis Tachtsidis (Genoa), Ivan Piris (Cerro Porteno), Marquinhos (Corinthians), dan Mattia Destro (Genoa) menjadi pemain muda yang didatangkan. Dengan Leandro Castan, Federico Balzareti, Michael Bradley, Vasilis Torosidis, dan Marquinho menjadi pemain veteran baru di tim.

Bila melihat daftar pemain di atas, apakah ada kesan pemilik klub mau bermain-main saja dengan pembelian klub? Jelas tidak. Pertanyaan yang patut diusung adalah, apakah pembelian di atas berbanding lurus dengan prestasi tim? Jawabannya juga tidak. Ada ketidaksesuaian yang menonjol – sebuah mismatch. Siapa yang salah? Pelatih yang tidak berkompeten? Maka mari kita bahas. Kursi kepelatihan AS Roma memang tidak pernah adem ayem. Pelatih AS Roma terakhir yang bisa bertahan minimal dua musim penuh adalah Luciano Spalletti, melatih sejak tahun 2005 hingga 2009. Claudio Ranieri, penggantinya, hampir saja bisa bertahan dua musim. Namun dia mengundurkan diri pada bulan Februari 2011 karena tekanan akibat performa dan mental tim yang buruk. Pertandingan terakhirnya sebagai pelatih Roma ditandai dengan kekalahan memalukan 3-4 dari Genoa, setelah sebelumnya sempat unggul 3-0. Dan dalam dua tahun, hingga tahun 2013 ini, Roma sudah berganti pelatih sebanyak lima kali.

Konyol sekali, tentu saja, mengharapkan prestasi bisa datang secara instan. Mie instan saja tidak instan, butuh tiga menit untuk menunggunya matang. Sir Alex Ferguson, salah satu pelatih terhebat dalam sejarah sepakbola modern, membutuhkan waktu empat tahun untuk mempersembahkan gelar pertamanya bagi Manchester United. Fabio Capello, pelatih terakhir yang membawa AS Roma meraih gelar scudetto, baru bisa melakukannya di tahun kedua. Di tahun pertamanya AS Roma hanya menduduki peringkat keenam di klasemen akhir. Apakah prestasinya di tahun pertama lebih baik dari Zdenek Zeman maupun Luis Enrique? Tidak. Apakah dia dipecat atau ditekan hingga mengundurkan diri? Juga tidak. Dan lihat apa yang dia buktikan di musim keduanya membesut Roma. Mungkin ini ekses kapitalisme di sepakbola. Melihat bagaimana Chelsea, Real Madrid, City, dan PSG, bisa dengan mudah ”membeli” gelar juara dengan bermodalkan kemampuan finansial yang mumpuni, membuat suporter klub manapun lebih tidak sabar – apalagi yang baru saja mendapatkan investasi yang sama. Kematangan dan kesabaran suporter AS Roma diperlukan dalam hal ini.

Mendung yang menggelayut di langit Trigoria tampak lumayan berkurang seminggu terakhir. Berita-berita tentang pemain baru memberi senyuman di wajah para suporter AS Roma. Lupakan Radja Nainggolan. Sudah terlalu sering AS Roma dihubung-hubungkan dengan pemain bagus untuk kemudian tidak terjadi transfer sama sekali. Mari kembali ke kenyataan. Seperti biasanya ada pemain-pemain muda – kebanyakan didikan Roma sendiri – yang masuk kembali ke tim dari pinjaman ataupun co-ownership. Dan dari kumpulan pemain itu juga banyak yang keluar lagi, hanya menghiasi berita sejenak. Lalu ada Mattia Destro yang dibeli secara resmi dari Genoa – sebelumnya hanya berstatus pinjaman. Taruhan Bola