Madrid vs Deportivo Alaves: Zidane Harus Melawan Sang Anak Malam Nanti

Walau kini tidak lagi menyandang posisi sebagai pemain bola, Zinedine Zidane kini sangat terkenal sebagai pelatih Real Madrid yang sudah pernah berhasil mempersembahkan beberapa trofi untuk tim berjuluk Los Galacticos. Sebelum dipercaya sebagai coach El Real, Zidane sendiri berposisi sebagai gelandang brilian yang sangat terkenal karena kepiawaiannya mengotak atik bola.
Pelatih kelahiran Prancis yang juga keturunan Aljazair ini pun pernah memperkuat Real Madrid sebelum akhirnya pensiun dalam klub tersebut. Sebelumnya, Zidane pernah didapuk sebagai komando area tengah lapangan Juventus & berhasil menyumbangkan gelar Scudetto bersama Juve. Selain skill dalam mengelola bola, satu momen yang akan selalu dikenal sama pecinta bola adalah serudukan kontroversialnya.
Montella mungkin dapat saja dijuluki raja bola-bola atas, namun rasanya tak ada yang bisa mengalahkan “tandukan maut” Zidane. Pada gelaran Piala Dunia terakhirnya, Zidane membuat sensasi dengan meneruduk dada bek Italia. Tak pelak ia langsung diganjar kartu merah sama wasit dan harus keluar dari lapangan dengan rasa malu . Tak hanya itu, rupanya momen tersebut pun jadi titik akhir bagi karir sepak bola internasionalnya. Karena memang sebelum laga Piala Dunia saat itu, Zidane memang telah berniat untuk gantung sepatu dari karirnya . Niatnya pun terwujud meski harus ternodai dengan kurang pantas.

Jadi Pelatih Real Madrid B dan Anaknya

Setelah berhenti dari pemain bola, Zidane sendiri dipercaya untuk pelatih Real Madrid B yang berlaga di Segunda Division. Pengalaman sepak bolanya yang diatas rata-rata membuatnya tak perlu membutuhkan saat yang lama untuk jadi arsitek sepak bola. Ia pun menjabat dan berhasil membawa Real Madrid Castila menjadi raja di laga kedua La Liga.
Pada tim tersebut, ia juga sekaligus menjadi pelatih anaknya, Enzo Zidane yang memang sudah sejak kecil merumput bersama Akademi Real Madrid. Tak heran jika pada saat Zidane diangkat menjadi coach utama El Real, ia pun membawa anaknya untuk dipromosikan ke tim utama. Namun sayangnya, karena satu dan lain hal, Enzo Zidane akhirnya pun dilego ke Depostivo Alaves sehabis hanya satu tahun bertekun di skuad utama El Real.
Melimpahnya pemain takdir di lini tengah disinyalir menjadi alasan mengapa Zidane tega menjual anaknya otonom. Di Alaves, Enzo Zidane dikontrak selama 3 selagi. Baik ayah maupun sang anak tentu ingin mempunyai karir yang sama baik di lapangan hijau.

“Duel” Pertama Ayah vs. Anak

Setelah La Liga berjalan beberapa pekan, El Real pun harus berseberangan dengan Depostivo Alaves. Enzo Zidane pun akan diperkirakan turun saat timnya hendak melawat dan bertanding dengan Real Madrid. Ini tentu menjadi momen emosional kali pertama bagi Enzo dan Zidane . Sang pelatih Madrid pun memberikan pernyataan terkait dengan pertemuan ini.
“Ini hendak menjadi pertemuan emosional. Saya sering berbicara secara personal kepadanya. Saya pun mengamatinya sebagai seorang pemain, ” kata Zidane saat diwawancarai Marca.
“Tahun lalu, aku menjadi pelatihnya. Tapi saat ini ia sudah mempunyai|memiliki pelatih beda. Hubungan kami berdua asli hanya sebatas ayah & anak, ” tutupnya.
Enzo Zidane sendiri adalah anak kandung Zidane yang diramalkan akan meneruskan kesuksesan sang ayah. Meski hingga saat ini nama besarnya belum terlalu bersinar, namun ia pernah menjadi sorotan saat sedang berseragam Madrid B. Enzo Zidane sendiri terkenal sebagai pemain yang memiliki gocekan khas seperti ayahnya.
Sejumlah orang yang memprediksikan masa depannya yang bakal secemerlang karir ayahnya, apalagi dengan embel-embel “anak Zidane” yang seolah memberikan beban kepadanya. Gimana pertemuan anak dan ayah malam nanti? Jangan lewatkan pertandingan Madrid vs. Deportivo Alaves di lanjutan La Liga.