Disiplin Versus Kenyamanan Pemain

Disiplin Versus Kenyamanan Pemain

Disiplin Versus Kenyamanan Pemain

Bola Online – Pada 22 September 2013, Manajer Sunderland Paulo Di Canio akhirnya dipecat oleh manajemen The Black Cats setelah dia melalui tiga belas pertandingan terhitung dari musim lalu. Para pemain senior Sunderland ditenggarai menjadi alasan kuat dibalik pemecatan manajer flamboyan asal Italia tersebut. Mereka merasa Di Canio menerapkan disiplin yang terlalu ketat sehingga para pemain veteran berpengalaman tersebut meminta kepada manajemen untuk mengganti Di Canio agar pemain lebih dapat bermain dengan santai dan tidak tegang. Permintaan para punggawa tua Sunderland dipenuhi, akhirnya di tanggal tersebut sebelumnya Di Canio dipecat secara tidak hormat. Sebuah pemecatan yang sebenarnya juga sudah diprediksikan mengingat Sunderland menuai hasil yang sangat mengecewakan. Bahkan kemudian Sunderland tidak bisa bangkit dan terpuruk di posisi juru kunci.

Sebelumnya pada 8 Februari 2012, Fabio Capello juga dipecat setelah perselisihan dengan FA karena juga menerapkan disiplin yang mematikan. Capello memang terkenal bertangan besi sehingga selalu menerapkan aturan jam malam serta tidak memperbolehkan para pemainnya untuk melakukan hubungan badan sebelum pertandingan. Di Piala Dunia 2010 hal ini terlihat kentara sekali yang kemudian dipercaya oleh publik Inggris bahwa karena disiplin yang sangat strict itulah Inggris bermain di bawah performa terbaiknya.

Capello dan Di Canio percaya bahwa pemain yang disiplin akan membuat mental bertandingnya terjaga. Sebuah hasil yang mereka rasakan sendiri walau dengan jalan yang berbeda. Di Canio harus menjadi anak nakal dulu sebelum akhirnya menyesal bahwa sebenarnya dia lebih bersinar andai kata dia lebih disiplin, tidak mabuk-mabukan dan lebih sering latihan. Capello sendiri belajar bertahun-tahun dari pengalamannya menangani berbagai pemain bintang dan tim besar. Jika, sebuah tim sepak bola diibaratkan adalah perusahaan dan sang pelatih adalah bos dari perusahaan tersebut, sedangkan pemain sepak bola adalah karyawannya, sudah seharusnya bukan sang bos membagi visinya tentang ke mana perusahaan akan berjalan. Kalau memakai analogi tersebut Capello dan Di Canio jelas-jelas gagal membagi pandangannya tentang aturan perusahaan dan mengapa aturan tersebut kemudian ditetapkan.

Dari kubu para pemain sendiri, khususnya yang berkarakter bebas dan independen, menyatakan bahwa aturan yang terlalu ketat dapat mengganggu kenyamanan permainan. Sehingga terkadang kreativitas untuk mencetak gol, jika taktik pelatih gagal diterapkan, akan sedikit terhambat. Walau ada juga pemain yang tetap mentaati aturan dan taktik dari pelatih, bagi mereka intinya adalah memberikan yang terbaik untuk timnya.

Pendekatan disiplin ketat memang masih bisa didebat kemudian. Apalagi melihat bahwa studi tentang sepak bola akan terus berkembang. Para pelatih sebenarnya bebas untuk menerapkan aturan apa pun, toh sebenarnya para pendukung tidak terlalu peduli dengan hal tersebut, lebih-lebih pemilik klub, bagi mereka adalah bagaimana caranya menerima seorang pemain berbakat dalam tim yang penuh kedisplinan dan dikte? Mungkin dalam tulisan selanjutnya akan terjawab. Bola Online