ANCAMAN SANKSI MENGHADANG PERSITARA

logo Persitara  1

ANCAMAN SANKSI MENGHADANG PERSITARA

Berita Piala Dunia – Setelah kasus penganiayaan terhadap wasit dan asisten wasit setelah usai laga dengan Sriwijaya FC (SFC)U-21 di stadion gelora sriwijaya palembang pada hari minggu yang dilakukan oleh pemain dari persita U-21. Baying-bayang sanksi dari komisi disiplin (komdis)PSSIĀ  telah ada di depan mata, persita diberi ganjar denda sebesar 50 juta rupiah dan juga larangan untuk ridak mengikuti pertandingan sebanyak 3 kali laga. Hal tersebut sangat jelas tercantum dalam pasal 6 ayat 2 kode disiplin PSSI tentang pemain yang melakukan tingkah laku buruk penganiayaan. Di Indonesia ini memang banyak sekali insiden atau kasis penganiayaan yang biasanya ditujuka pada wasit dan asisten wasit. Hal tersebut banyak terjadi karena kesalah pahaman antara pemain dan pemain ataupun antara pemain dan juga wasit tentang kesalahan yang diperbuat oleh pemain. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, sangat terlihat jelas ada pemain yang dengan sengaja menendang asisten wasit di lorong ruang ganti pemain.

Pemain tersebut berasal dari tim persita U-21 dengan nomor punggung 55, Gilang Aditya dengan sengaja melakukan tindakan kekerasan terhadap asisten wasit. Akan tetapi, pihak komdis belum mendapatkan adanya laporan tentang penganiayaan tersebut, Mahfudin Nigara selaku anggota komdis PSSI mengatakan bahwa dari pihak komdis belum mendapatkan pengaduan kekerasan dari pihak wasit. Akan tetapi jika hal tersebut memang terjadi dan benar dilakukan oleh pemain maka pasti hukuman yang akan diberikan sangat berat akan diberikan kepada tim tersebut, bisa saja hukuman minimal skors selama tiga tahun, hal tersebut tergantung dari hasil investigasi yang akan dilakukan komdis. Akan tetapi, terlebih dahulu pihak komdis akan memanggil pihak yang bersangkutan atau melihat rekaman yang memperlihatkan kejadian tersebut. Nigara mengatakan bahwa jika memang terjadi hal yang krusial tersebut, maka dengan langkah cepat komdis akan melakukan investigasi dan melakukan sidang. Nigara juga mengatakan bahwa pada setiap hari rabu pasti digelar sidang.

Ada penuturan dari pihak lain, yaitu dari Nursyamsu yang tidak lain adalah manajer dari timpersita U-21 mengatakan hal tersebut bisa terjadi dikarenakan adanya keputusan yang berat sebelah yang diambil oleh wasit. Wasit pada saat itu memberikan keputusan untuk tendangan penalty pada menit ke 90+1. Kontan saja hal tersebut membuat emosi para pemain terpicu, apalagi hal itu ditambah dengan pengambilan keputusan untuk mengakhiri gala permainan tersebut setelah SFC melakuka tendangan penalty. Bisa ditebak, semua pemain langsung tersulut emosinya dan mencoba mengejar wasit Fajar Ginting. Nursyamsu mengatakan bahwa keputusan tersebut salah, itu karena bola sudah berada di luar lapangan, ditambah lagi dengan sering sekali pemain lawan melakukan diving tetapi tidak mendapatkan hukuman. Pertandingan tersebut dinilai sudah dirusak oleh wasit, padahal Nursyamsi mengatakan bahwa pertandingan ini merupakan lahan pembinaan bagi para pemain. Semua pemain sebenarnya bisa menahan rasa marah tetapi hal tersebut terulang dan pemain tidak bisa menahan emosinya lagi.

Dimulai dari kasus itu, muncul kecurigaan adanya konspirasi antara wasit dan juga pihak SFC. Nusyamsu menuturkan bahwa dirinya mengharapkan ketika laga kandanng psps pekan baru nanti, masalah wasit seperti ini harus lebih diperhatikan lagi oleh PSSI agar tidak terjadi lagi di kemudian hari. Di pihak lain